Rabu, 30 Desember 2020

TUGAS AKHIR PENILAIAN HUTAN

 

Judul : Analisis Perubahan Nilai Ekonomi Lahan Pada Konversi Hutan Rakyat di Daerah Aliran Sungai Ciliwung Hulu.

Jurnal : Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan

Volume dan Halaman : Vol. 7 No. 3 dan Hal. 209-220

Tahun : 2010

Penulis : Agus Astho Pramono

Reviewer : Aulia Maulidar Siregar (181201081)

Tanggal : 23 Desember 2020.

 

Tujuan penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengatahui laju keonversi hutan rakyat di DAS Ciliwung hulu dan untuk mengetahui perubahan nilai ekonomi lahan dari kegiatan konversi hutan.

 

Subjek penelitian

Subjek penelitian ini adalah Di kawasan Puncak yang merupakan DAS Ciliwung hulu, konversi lahan berhutan dan kawasan perkebunan menjadi lahan terbangun.

 

Assemen data

Data sekunder yang digunakan meliputi peta-peta dan data sosial ekonomi yang berkaitan dengan tentang pengelolaan hutan rakyat dan tata guna lahan yang diperoleh dari Kantor BPS Kabupaten Bogor, kantor kecamatan dan kelurahan di wilayah Puncak (Kec. Cisarua, Megamendung dan Ciawi). Peta-peta yang digunakan meliputi: Peta Rupabumi Digital Indonesia skala 1: 25.000. Lembar 1209-141 Ciawi, dan Lembar 1209-142 Cisarua + edisi tahun 1998, peta citra Landsat ETM tahun 1995 dan 2003. Data sosial ekonomi yang dipakai adalah data tahun 2003.

 

Metode Penelitian

Metode pengambilan sampel dilakukan secara purposive. Sampel yang dipilih adalah daerah yang memiliki wilayah hutan rakyat yang relatif luas yang berada di wilayah paling hulu dari DAS Ciliwung dan wilayah yang lebih hilirnya, terdiri dari 2 kecamatan yaitu Kecamatan Cisarua dan Kecamatan Megamendung. Masing-masing diwakili oleh 2 desa, yaitu Desa Batulayang, dan Tugu Utara (Kec. Cisarua), Desa Gadog dan Sukakarya (Kec. Megamendung).

 

Langkah penelitian

Pengolahan dan Analisis Data

1. Laju konversi dan pola penggunaan lahan Penghitungan laju konversi terhadap hutan rakyat dan pola penggunaan lahan dilakukan berdasarkan interpretasi citra landsat, data sekunder, pengamatan langsung dan wawancara dengan petani.

2. Analisis nilai ekonomi lahan Dalam penelitian ini penghitungan nilai ekonomi lahan didasarkan pada Net Present Value (NPV) yang dihitung dengan rumus berikut:

Di mana:

NPV = Nilai sekarang neto

B = Penerimaan yang diperoleh pada tahun t

C = Biaya yang dikeluarkan pada tahun  t

t = jangka waktu analisis (tahun)

i = tingkat suku bunga yang berlaku (discount rate)

            Nilai nilai ekonomi lahan antara lahan hutan rakyat dan non hutan rakyat (pertanian semusim dan perumahan di Kecamatan Megamendung, pertanian semusim, perumahan, dan villa di Kecamatan Cisarua) kemudian diperbandingkan.

 

Hasil penelitian

Hasil analisa dari penelitian yang dilakukan adalah:

·           Penggunaan Lahan DAS Ciliwung hulu berdasarkan penguasaan lahannya dapat dikelompokkan menjadi lahan negara, hak milik dan hak guna usaha. Desa Tugu Utara sebagian besar lahan pertaniannya merupakan lahan kering yang diusahakan untuk budidaya holtikultura semusim seperti kol, cabai, tomat, kentang, petsai, bawang daun, dan wortel. Di desa Batulayang selain lahan kering untuk holtikultura semusim, juga banyak ditemui lahan basah untuk pertanaman padi.

·           Berdasarkan luas lahan di Kecamatan Cisarua menguasai lahan yang rata-rata lebih luas daripada di Kec. Megamendung. Di Megamendung pemanfaatan lahan untuk pertanian masih memiliki persentase yang besar. Pada lahan sawah atau ladang di Desa Gadog dan Sukakarya selain pertanaman padi, sayuran yang sering ditanam, antara lain, ubi lokal, ubi cilembu, kacang panjang, mentimun, talas, jagung, dan singkong. Di Sukakarya tanaman yang cukup dominan dibudidayakan di lahan pertanian adalah padi dan ubi.

·           DAS Ciliwung hulu hutan rakyat didominasi oleh kebun campuran, yaitu lahan yang ditanami campuran tanaman kehutanan misalnya mindi (Melia azedarach), sengon (Paraserianthes falcataria), dan kayu afrika (Maesopsis emenii), holtikultura tahunan misalnya pepaya (Carica papaya), pisang (Musa sp.), pala (Myristica fragrans), dan holtikultura semusim misalnya nanas (Ananas comosus), kunyit (Curcuma domestica), singkong (Manihot sp).

·           Setiap tahun di Kecamatan Megamendung perubahan lahan kebun campur ke penggunaan lainnya (hutan, kebun teh, pemukiman, ladang, semak/belukar, lahan terbuka dan sawah) menunjukkan konversi hutan rakyat selama 8 tahun rata-rata sebesar 253,46 ha/tahun, sedangkan di Cisarua rata-rata 110,15 ha/tahun. Dari hasil analisis diketahui bahwa penyebab utama penyusutan hutan rakyat di Megamendung maupun Cisarua adalah konversi menjadi pemukiman dan ladang/tegalan, yaitu seluas 225,90 ha/tahun.

·           Hasil analisis menunjukkan bahwa secara umum penggunaan lahan untuk kebun campuran dengan tanaman tahunan secara ekonomi kurang menguntungkan daripada penggunaan lahan untuk padi, atau penggunaan lainnya seperti palawija, villa atau permukiman.

·           Hasil analisis terhadap usaha agroforestri menunjukkan nilai ekonomi lahan sebesar Rp 553/m2/th. Di Gadog dan Sukakarya nilai ekonomi lahan untuk pertanian seperti padi dan sayuran  atau palawija lebih tinggi daripada kegiatan agroforestri, yaitu Rp 2.273 /m2/th. (padi), Rp 2.271 /m2/th. (ubi cilembu). Nilai ekonomi lahan untuk pemukiman di Gadog dan Sukakarya adalah sebesar Rp 33.197 /m2/th. Di Desa Batulayang dan Tugu Utara, persaingan antara agroforestri dengan budidaya lainnya lebih berat dibanding dengan di Gadog dan Sukakarya. Di kedua desa ini nilai ekonomi lahan untuk tanaman padi Rp 2.563 /m2/th, bawang daun Rp 3.852 /m2/th, perumahan Rp 37.466 /m2/th., dan villa Rp 29.278 /m2/th, jauh lebih menguntungkan dibanding nilai ekonomi lahan untuk hutan rakyat. Konversi lahan dari hutan rakyat menjadi pemukiman, tegal, ladang atau sawah di DAS Ciliwung hulu secara ekonomi lebih menguntungkan karena meningkatkan nilai lahan.

 

Kekuatan penelitian

Tahap pengumpulan data menggunakan peta interpretasi citra Landsat ETM+ sehingga hasil nya akurat.

 

Kelemahan penelitian

Tahapan dalam penghitungan nilai ekonomi lahan yang didasarkan pada Net Present Value (NPV) tidak dijabarkan secara rinci

 

Kesimpulan

Nilai ekonomi lahan dari hutan rakyat adalah Rp 553/m /th, dibanding dengan penggunaan lahan lainnya, hutan rakyat memiliki opportunity cost yang tinggi. Nilai ekonomi 2lahan untuk penggunaan lainnya adalah : Rp 2.563 /m2/th (padi), Rp 2.271/m2/th (ubi cilembu). Rp 3.852 /m2/th (bawang daun), Rp 37.466 /m2/th (perumahan), dan Rp 29.278/m2/th (villa ). Nilai ekonomi lahan hutan rakyat masih dapat ditingkatkan karena sebagian besar lahan hutan rakyat tidak dikelola secara optimal. Konversi lahan dari hutan rakyat menjadi pemukiman, tegal, ladang atau sawah di DAS Ciliwung hulu secara ekonomi lebih menguntungkan karena meningkatkan nilai lahan. Peningkatan nilai lahan dari konversi lahan di Kecamatan Megamendung mencapai Rp 41.718.102.750/tahun dan di Cisarua sebesar Rp 29.940.878.588/tahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar