Judul : Analisis Perubahan Nilai Ekonomi
Lahan Pada Konversi Hutan Rakyat di Daerah Aliran Sungai Ciliwung Hulu.
Jurnal : Penelitian Sosial dan Ekonomi
Kehutanan
Volume dan Halaman : Vol. 7 No. 3 dan Hal. 209-220
Tahun : 2010
Penulis : Agus Astho Pramono
Reviewer : Aulia Maulidar Siregar (181201081)
Tanggal : 23 Desember 2020.
Tujuan penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengatahui
laju keonversi hutan rakyat di DAS Ciliwung hulu dan untuk mengetahui perubahan
nilai ekonomi lahan dari kegiatan konversi hutan.
Subjek penelitian
Subjek penelitian ini adalah Di
kawasan Puncak yang merupakan DAS Ciliwung hulu, konversi lahan berhutan dan
kawasan perkebunan menjadi lahan terbangun.
Assemen data
Data
sekunder yang digunakan meliputi peta-peta dan data sosial ekonomi yang
berkaitan dengan tentang pengelolaan hutan rakyat dan tata guna lahan yang
diperoleh dari Kantor BPS Kabupaten Bogor, kantor kecamatan dan kelurahan di
wilayah Puncak (Kec. Cisarua, Megamendung dan Ciawi). Peta-peta yang digunakan
meliputi: Peta Rupabumi Digital Indonesia skala 1: 25.000. Lembar 1209-141
Ciawi, dan Lembar 1209-142 Cisarua + edisi tahun 1998, peta citra Landsat ETM
tahun 1995 dan 2003. Data sosial ekonomi yang dipakai adalah data tahun 2003.
Metode Penelitian
Metode
pengambilan sampel dilakukan secara purposive.
Sampel yang dipilih adalah daerah yang memiliki wilayah hutan rakyat yang
relatif luas yang berada di wilayah paling hulu dari DAS Ciliwung dan wilayah
yang lebih hilirnya, terdiri dari 2 kecamatan yaitu Kecamatan Cisarua dan
Kecamatan Megamendung. Masing-masing diwakili oleh 2 desa, yaitu Desa
Batulayang, dan Tugu Utara (Kec. Cisarua), Desa Gadog dan Sukakarya (Kec.
Megamendung).
Langkah penelitian
Pengolahan
dan Analisis Data
1.
Laju konversi dan pola penggunaan lahan Penghitungan laju konversi terhadap
hutan rakyat dan pola penggunaan lahan dilakukan berdasarkan interpretasi citra
landsat, data sekunder, pengamatan langsung dan wawancara dengan petani.
2.
Analisis nilai ekonomi lahan Dalam penelitian ini penghitungan nilai ekonomi
lahan didasarkan pada Net Present Value
(NPV) yang dihitung dengan rumus berikut:

Di mana:
NPV = Nilai sekarang neto
B = Penerimaan yang diperoleh pada tahun t
C = Biaya yang dikeluarkan pada tahun t
t = jangka waktu analisis (tahun)
i = tingkat suku bunga yang berlaku (discount rate)
Nilai nilai ekonomi lahan antara lahan hutan
rakyat dan non hutan rakyat (pertanian semusim dan perumahan di Kecamatan
Megamendung, pertanian semusim, perumahan, dan villa di Kecamatan Cisarua) kemudian
diperbandingkan.
Hasil penelitian
Hasil analisa dari penelitian yang
dilakukan adalah:
·
Penggunaan Lahan DAS
Ciliwung hulu berdasarkan penguasaan lahannya dapat dikelompokkan menjadi lahan
negara, hak milik dan hak guna usaha. Desa Tugu Utara sebagian besar lahan
pertaniannya merupakan lahan kering yang diusahakan untuk budidaya holtikultura
semusim seperti kol, cabai, tomat, kentang, petsai, bawang daun, dan wortel. Di
desa Batulayang selain lahan kering untuk holtikultura semusim, juga banyak
ditemui lahan basah untuk pertanaman padi.
·
Berdasarkan luas lahan
di Kecamatan Cisarua menguasai lahan yang rata-rata lebih luas daripada di Kec.
Megamendung. Di Megamendung pemanfaatan lahan untuk pertanian masih memiliki
persentase yang besar. Pada lahan sawah atau ladang di Desa Gadog dan Sukakarya
selain pertanaman padi, sayuran yang sering ditanam, antara lain, ubi lokal,
ubi cilembu, kacang panjang, mentimun, talas, jagung, dan singkong. Di
Sukakarya tanaman yang cukup dominan dibudidayakan di lahan pertanian adalah
padi dan ubi.
·
DAS Ciliwung hulu hutan
rakyat didominasi oleh kebun campuran, yaitu lahan yang ditanami campuran
tanaman kehutanan misalnya mindi (Melia
azedarach), sengon (Paraserianthes
falcataria), dan kayu afrika (Maesopsis
emenii), holtikultura tahunan misalnya pepaya (Carica papaya), pisang (Musa sp.),
pala (Myristica fragrans), dan
holtikultura semusim misalnya nanas (Ananas
comosus), kunyit (Curcuma domestica),
singkong (Manihot sp).
·
Setiap tahun di
Kecamatan Megamendung perubahan lahan kebun campur ke penggunaan lainnya
(hutan, kebun teh, pemukiman, ladang, semak/belukar, lahan terbuka dan sawah)
menunjukkan konversi hutan rakyat selama 8 tahun rata-rata sebesar 253,46
ha/tahun, sedangkan di Cisarua rata-rata 110,15 ha/tahun. Dari hasil analisis
diketahui bahwa penyebab utama penyusutan hutan rakyat di Megamendung maupun
Cisarua adalah konversi menjadi pemukiman dan ladang/tegalan, yaitu seluas
225,90 ha/tahun.
·
Hasil analisis
menunjukkan bahwa secara umum penggunaan lahan untuk kebun campuran dengan
tanaman tahunan secara ekonomi kurang menguntungkan daripada penggunaan lahan
untuk padi, atau penggunaan lainnya seperti palawija, villa atau permukiman.
·
Hasil analisis terhadap
usaha agroforestri menunjukkan nilai ekonomi lahan sebesar Rp 553/m2/th.
Di Gadog dan Sukakarya nilai ekonomi lahan untuk pertanian seperti padi dan
sayuran atau palawija lebih tinggi
daripada kegiatan agroforestri, yaitu Rp 2.273 /m2/th. (padi), Rp
2.271 /m2/th. (ubi cilembu). Nilai ekonomi lahan untuk pemukiman di Gadog
dan Sukakarya adalah sebesar Rp 33.197 /m2/th. Di Desa Batulayang
dan Tugu Utara, persaingan antara agroforestri dengan budidaya lainnya lebih
berat dibanding dengan di Gadog dan Sukakarya. Di kedua desa ini nilai ekonomi
lahan untuk tanaman padi Rp 2.563 /m2/th, bawang daun Rp 3.852 /m2/th,
perumahan Rp 37.466 /m2/th., dan villa Rp 29.278 /m2/th,
jauh lebih menguntungkan dibanding nilai ekonomi lahan untuk hutan rakyat.
Konversi lahan dari hutan rakyat menjadi pemukiman, tegal, ladang atau sawah di
DAS Ciliwung hulu secara ekonomi lebih menguntungkan karena meningkatkan nilai
lahan.
Kekuatan penelitian
Tahap pengumpulan data menggunakan
peta interpretasi citra
Landsat ETM+ sehingga
hasil nya akurat.
Kelemahan penelitian
Tahapan dalam penghitungan
nilai ekonomi lahan yang didasarkan pada Net
Present Value (NPV) tidak dijabarkan secara rinci
Kesimpulan
Nilai
ekonomi lahan dari hutan rakyat adalah Rp 553/m /th, dibanding dengan
penggunaan lahan lainnya, hutan rakyat memiliki opportunity cost yang tinggi.
Nilai ekonomi 2lahan untuk penggunaan lainnya adalah : Rp 2.563 /m2/th
(padi), Rp 2.271/m2/th (ubi cilembu). Rp 3.852 /m2/th
(bawang daun), Rp 37.466 /m2/th (perumahan), dan Rp 29.278/m2/th
(villa ). Nilai ekonomi lahan hutan rakyat masih dapat ditingkatkan karena
sebagian besar lahan hutan rakyat tidak dikelola secara optimal. Konversi lahan
dari hutan rakyat menjadi pemukiman, tegal, ladang atau sawah di DAS Ciliwung
hulu secara ekonomi lebih menguntungkan karena meningkatkan nilai lahan.
Peningkatan nilai lahan dari konversi lahan di Kecamatan Megamendung mencapai
Rp 41.718.102.750/tahun dan di Cisarua sebesar Rp 29.940.878.588/tahun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar